Senin, 13 September 2010

RETRIEVE THE MEMORY

Biarpun susah payah perjalanan, mudik tetap trip yang menarik bagi bangsa kita. Waktu masih bujangan dan sudah kerja di kota, kegembiraan itu nampak ketika bertemu kawan lama, sahabat masa kecil, sahabat di bangku sekolah, sahabat main. Ada sahabat yang sama-sama merantau, ada sahabat yang tetap menunggu di kampung, semuanya diselimuti kegembiraan bertemu setahun sekali paling tidak. Ketika mudik dengan keluarga, isteri dan anak atau anak-anak, kegembiraan itu bertambah karena kita akan bertemu dengan orang tua kita, bapak dan ibu yang telah membesarkan kita ataupun bapak dan ibu mertua sebagai bagian dari keluarga kita. Kegembiraan itu berlanjut dari tahun ke tahun, mengalir seperti derasnya kasih sayang orang tua yang tidak pernah lekang. Sampai suatu waktu ketika tidak ada lagi yang mengharapkan kedatangan kita atau menyambut di halaman rumah karena kedua orang tua tercinta itu telah tiada.
Kita merasakan kehilangan, kita tidak pernah merasa kehilangan sewaktu keduanya masih hidup. Rumah yang kosong, halaman rumah yang bersih tapi tanpa ada cahaya kegembiraan.
Ketika memasuki pintu rumah tidak ada lagi peluk cium dari ayah dan ibu, ruang tamu sepi, ruang keluarga hampa. Ruang makan yang biasanya meja itu penuh dengan sajian yang disiapkan ibu tak nampak lagi. " Ini makanan kesayangan mu nak, ibu siapkan dari kemarin, ayo makanlah !", suara itu seolah menginang kembali di telinga. Terus ke dapur, tak ada lagi bau masakan yang dulu tercium setiap kali datang ke rumah. Kemanakah mereka ? Ah,mungkin di kamar mandi lagi membersihkan kamar mandi supaya anak dan cucu betah. Merekapun tidak ada.
Kita merasa kehilangan, kita tahu bahwa mereka sudah wafat, tapi mata bathin mampu merasakan bahwa mereka berdua ada di rumah ini. Foto ayah dan ibu masih tergantung di kamar tidur mereka, mereka terlihat bahagia walau jauh di lubuk matanya tersimpan kesedihan bahwa hari ini, di hari yang fitri ini, tidak bisa lagi memeluk dan menyapa. Perabotan di kamar mereka masih tersusun seperti dulu, meja rias dan kursinya, diatas lemari masih tersimpan tas yang sering dibawa bapak ketika mengunjungi kami di kota.
Dulu ketika mereka masih ada, diantarnya kami sampai ke pintu pagar, didoakan selamat di perjalanan, diiringi harapan untuk mengarungi kehidupan yg bahagia, ada isyak tangis ibu melepas kepergian kami, ada linangan air di mata bapak, mereka menunggu dan menjalani kehidupan di kampung. Ritual yang terjadi setiap kali kami mudik. Semuanya itu tidak ada lagi.
Andai saja waktu bisa kuputar balik, aku ingin berlama-lama menemani mereka karena dulu seolah tergesa ingin kembali ke kota. Kami ingin menemani bapak ke kebun dan kolam ikan kesayangannya semasa menjalani masa pensiun. Kami ingin menemani mereka cerita tentang kehidupan setahun silam, dari mulai lebaran tahun lalu sampai sekarang. Semoga Allah mengampuni dosa ibu dan bapak, melimpahkan rahmatNya, menerima segala amal ibadahnya, maafkan segala kekeliruannya. Amien

Tidak ada komentar:

Posting Komentar