Beberapa tahun yang lalu, kami terkejut melihat begitu banyaknya motor (motorcycles) di jalan -jalan kota Hanaoi.Hah, pastinya sekarang mereka yang terejut melihat begitu banyak motor berseliweran di hampir seluruh kotadi Indonesia. Apalagi di ibu kota Jakarta, apalagi menjelang dan sehabis lebaran seperti sekarang ini.
Apa kita harusnya bangga atau malu. Lho kok malu sih ? Malulah karena masyarakat menggunakan motor disebabkan oleh tidak adanya kemampuan memiliki kendaraan roda empat. Malulah karena sistem tranportasi publik sangat jelek sehingga tidak menarik minat masyarakat untuk menggunakn sarana transportasi umum yg kotor, jorok, semrawut, tidak nyaman banyak pengemis dan pengamen, tidak aman banyak copet dan perilaku pelecehan seksual. Pendek kata ini salahnya perencana kota atau ini lihainya pelobi induatri sedan dan motor.
Kami yakin limabelas tahun yag akan datang akan lahir pembalap motor kelas dunia macam Valentino Rossi. Sebabnya ? Dari mudik dan balik ini, anak balita kita sudah dilatih berkendaraan motor jarak jauh dan pake ngebut lagi. Sebagian pengendara motor saat lebaran ini pasti dengan anaknya, yang kecil diapit diantara kedua ortu, yang agak gedean ditaruh didepan. Penuh dengan barang bawaan mereka menerjang padatnya lalin di pantura dan jalur lainnya. Jalanan dibagi dua secara tidak sengaja, jalur cepat untuk mobil, jalur satunya untuk motor. Ngeri sekali kita lehat begitu padat dan nyaris tak ada pembatas antara motor dan mobil yang melaju kencang.
Well, harapan kita semuanya lancar dan selamat. Ini lebaran bung, bahkan polisi juga cukup toleran. Bukan berarti meremehkan soal keamanan berkendaraan, tapi lebih keadaan darurat, dalam keadaan darurat apapun ditolerir. Komnas anak bahkan tidak pernah berbicara tentang ini, apakah ini pelecehan terhadap anak, mere,mehkan hak perlindungan anak ? Ah, lagi-lagi ketidak mampuan masyarakat membuat semuanya napak hal yang biasa saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar