Sabtu, 18 September 2010

ANDAI NABI NAMBAH SATU : gado-gado perjalanan haji

3. TSUNAMI ! TSUNAMI !


Hotel Hilton, tempat kami menginap di Makkah adalah hotel berbintang lima bila dilihat dari kacamata kenyamanan beribadah. Betapa tidak, halaman hotel langsung berbatasan dengan halaman Masjidil Haram. Fasilitasnya juga lumayan lengkap, lantai satu sampai lantai tiga digunakan sebagai lokasi pertokoan yang menyediakan berbagai keperluan jamaah termasuk cindera mata untuk oleh oleh pulang ke tanah air. Di lantai dasar ada tersedia kios penukaran uang (money changer) dan restoran yang menyediakan makanan khas seperti nasi kebuli, kebab, bakso dan nasi goreng yang cocok dengan lidah Indonesia.
Setiap jamaah menempati kamar sesuai dengan yang telah ditentukan oleh pengurus travel. Lebih tepatnya sesuai dengan kemampuan keuangan kita waktu mendaftar sebagai calon jemaah haji. Yang berkantong tebal bisa satu kamar berdua (dengan isteri), bisa bertiga bila dengan anak, bahkan bisa sendiri kalau mau sih. Saya menempati kamar untuk berempat, jadi ada dua ekstra bed disisipkan di dalam kamar yang sebetulnya dirancang hanya untuk dua orang. Kamar menjadi sempit tapi terasa lapang karena mendapat tiga orang kenalan baru.
“ Mohon maap sebelumnya pak, kalau tidur saya mendengkur !” salah satu dari kami angkat bicara.
“ Oh, tidak apa apa “, jawab kami bertiga.
“ Saya sering keluar angin kalau tidur “, kawan yang satu lagi memberikan pengakuan. Maksudnya kentut. Ah, itu juga tidak masalah kalau cuma angin yang dikeluarkan
“ Saya tidak bisa tidur kalau lampunya terang !” kawan yang ketiga tak mau kalah mengajukan peenawaran. Ah, itu juga mudah diatasi dengan mematikan lampu sebelum tidur.
“ Saya perokok berat, tapi tidak akan merokok di kamar dan juga di kamar mandi !” kini giliran aku yang memberikan komitmen. Pembagian tempat tidur, pengaturan letak kopor, pembagian gantungan baju di lemari, dan hal penting lainnya selesai diatur dan disepakati.
“ Hal-hal yang belum diatur pada kesepakatan ini akan diselesaikan kemudian secara musyawarah mufakat dengan semangat persaudaraan haji !” salah satu teman baruku berkata.
“ Ha ha ha !!! “ kami berempat, dua PNS dan dua pegawai swasta tertawa nikmat.
Di kamar tersedia TV, selain gambarnya yang kurang tajam, hanya CNN yang dapat kami ikuti karena channel selebihnya berbahasa Arab. Berulang kali berita tsunami di NAD mendominasi acara CNN, lumayan tidak ketinggalan berita mengenai tanah air. Kalau tidak naik haji saya akan ikut sibuk dalam kegiatan tanggap darurat bencana tsunami ini, karena itulah salah satu tugasku di kantor, berurusan dengan bencana dan korban bencana. Mungkin karena merasa sedikit bersalah tidak ikut dalam penanganan bencana ini, malamnya saya bermimpi melihat gelombang air dari arah Glodok menuju kawasan Thamrin. Aku segera berteriak : “ Tsunami ! tsunami !! “, dan tersadar ketika mendengar teman di tempat tidur sebelah menjawab : “ Bukan, bukan tsunami !” Rupanya dia masih asyik nonton CNN.
“ Maap, kemarin saya lupa mengatakan bahwa kalau tidur saya sering menggigau”, aku buat pengakuan.
Lengkaplah sudah penghuni kamar ini : ada yang menggigau; ada yang mendengkur; ada yang kentut. Walaupun gelap kami tahu siapa yang mengeluarkan suara suara khas itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar