2. HAJI SOBAR TERLAMBAT TERUS
Lewat tengah malam pesawat mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, salah satu bandara tersibuk di dunia pada saat musim haji seperti sekarang ini. Perjalanan Jakarta – Jeddah ditempuh dalam waktu 9 jam 15 menit, menurut pramugari sewaktu lepas landas dari Jakarta. Yang jelas keberangkatan dari Jakarta terlambat dari jadwal semula jam 13:40 menjadi jam 16:00.
Terbesit dalam benak : “ Masih perlukah kita peduli dengan waktu pada saat ini ? “ Apakah ini perjalanan dinas untuk menghadiri rapat atau menyampaikan makalah pada sebuah seminar ? Tidak ! Apakah ini perjalanan bisnis dalam rangka penandatanganan kontrak ? Juga tidak ! Jadi apa yang perlu dirisaukan ?
Wellcome, Selamat Datang, Mabuhay. Tulisan yang terpampang besar di tembok ini tidak memberi kesan bahwa inilah tempat kedatangan khusus untuk jamaah yang akan menunaikan haji. Kurang percaya rasanya kalau Bandara Internasional King Abdul Aziz milik negara makmur seperti Arab Saudi seperti ini. Dari beberapa negara yang pernah saya kunjungi, bandara internasional di Kathmandu (Nepal) yang paling sederhana tapi itupun masih jauh lebih bagus dan bersih.
“ Untuk penerbangan reguler bukan disini tempat kedatangannya pak ! “ kata temanku satu rombongan seakan dia tahu apa yang saya herankan. Oh, pantaslah kalau begitu, tempat ini hanya digunakan setahun sekali, jadi wajarlah kalau toiletnya kurang terurus alias kotor sekali. Sekarang kami harus menunggu pemeriksaan imigrasi sebelum keluar dari Bandara dan menuju Makkah.
Empat meja imigrasi masih kosong. Jamaah terlihat kuyu karena kelelahan setelah melewati perjalanan yang cukup lama. Sebagian duduk bersandar di kursi panjang berwarna putih terbuat dari plastik, beberapa diantara kami memanfaatkan waktu untuk segera berpakaian ihram dilanjutkan dengan sholat sunah ihram 2 rakaat.
“ Anda harus bersabar, karena kesabaran kita sedang diuji “ kata salah seorang pembimbing kami. Lelah, jemu dan kesal karena menunggu terlalu lama memunculkan berbagai komentar diantaranya adalah bukanlah Arab kalau urusan berjalan lancar dan cepat. “ Nah, jadi tidak sabar kan ?!” kata pembimbing lainnya.
Pada musim haji seperti saat ini seharusnya diperlukan lebih banyak petugas imigrasi, kalau jumlahnya tidak ditambah berarti jam kerjanya yang diperpanjang.
Akhirnya, petugas imigrasi datang juga. Kejenuhan tercermin di wajah mereka, satu persatu kami dipanggil melewati meja imigrasi, hampir tak ada komunikasi memang saat itu adalah waktunya tidur. “ Tak perlu ada pertanyaan atau kecurigaan kepada tamu Allah” gumamku dalam hati. Sebentar saja seluruh rombongan kami sudah melewati bagian imigrasi.
Bagasi sudah menunggu, dipisahkan sesuai kelompok travelnya. Keseragaman warna koper dan tulisan nama travel sangat memudahkan untuk mengenali kelompok kita, sekarang tinggal memilih koper masing masing yang sudah tertera namanya dan juga diberi ciri khusus supaya mudah dikenali. Sebelum keluar Bandara, koper diperiksa lagi melalui ditektor, cepat dan lancar, lumayan sebagai obat penghibur kelamaan menunggu proses imigrasi. Wah, lega rasanya setelah keluar dari ruangan yang sumpek dan tidak nyaman. Masih di lingkungan bandara, setiap kelompok calon haji telah disediakan tempat sesuai negaranya. Disitu sebagain besar jamaah berganti pakaian dengan ihram, sholat sunah ihram 2 rakaat dan menunggu pemberangkatan dengan bis menuju Makkah.
“Kesabaran itu tidak hanya perlu, tetapi juga penting !”, itulah pesan yang turun temurun disampaikan dari tahun ketahun dan diulangi terus menerus oleh petugas haji Departemen Agama pada setiap manasik haji. Tidak salah memang, yang salah adalah kalau nasehat itu digunakan untuk menutupi kekurangan pelayanan atau sebagai dalih keengganan memperbaiki kesalahan yang pernah terjadi tahun sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar