Jumat, 24 September 2010

DIMANA SANDALKU : gado2 perjalanan haji

5. MALAIKAT AA ?

Isteri tercinta selalu memanggil saya “Aa”, panggilan yang kemudian diikuti oleh teman dekat lainnya pada perjalanan haji ini. Panggilan itu sangat lekat dengan Da’i kondang Aa Gym, tokoh yang disegani dan saya hormati. Saya ikuti jejaknya walaupun baru sebatas memakai sorban di kepala, itulah yang dikenakan sewaktu meninggalkan hotel menuju masjid ketika adzan subuh pertama terdengar.
Masjid mulai dipenuhi jamaah, saya terus berjalan kedepan menuju Kabah. Putaran tawaf semakin mengecil dan segera digantikan oleh shaf yang akan melaksanakan sholat subuh. Sajadah sudah terhampar, ada empat orang jamaah di belakang, dari wajah dan tas identitas di dadanya mereka adalah jamaah Indonesia yang sedang khusyuk berdzikir. Ketika salah satunya melihat, saya menganggukan kepala sambil melempar senyum. Secara tiba tiba tangan ini ditarik, sambil menangis dia menciumi tangan saya cukup lama dan kemudian diikuti oleh yang lainnya. Kaget mendapat penghormatan seperti itu segera kutarik tangan ini dan kutepuk bahu jamaah terakhir sambil saya bisikan : “ Teruskan dzikirnya pak “. Dalam hati saya bertanya : “ siapa diri ini ? kiayi bukan, dai bukan, orang terkenal bukan ! “. Rasanya belum pantas mendapat kehormatan dari mereka, di mata Allah SWT mungkin mereka jauh lebih baik dari saya. Ada perasaan malu, kemudian saya putuskan pindah tempat lebih maju kedepan mendekati Kabah karena shaf baru dengan cepat terbentuk, yang bertawaf semakin berkurang. Kulihat sekilas mereka masih tertunduk, berdzikir dengan khidmat dan tidak menyadari kalau saya tidak ada didepan mereka lagi. Dalam hati saya berharap mudah mudahan mereka tidak menyangka saya ini Aa Gym atau bahkan malaikat, cerita yang sering kita dengar di tanah air.


6. NAH LU, LANGSUNG DIBALAS

“ Diusir terus sama askar yah ?!” celetuk seorang ibu kepada temannya, “pindah sini dekat gue, aman tidak pernah diusir !”.
“ Biarain aja bu, tau rasa perbuatannya langsung dibalas, abis dia suka ngusirin orang sih ! “ komentar ibu sebelahnya.
Kita sering menyaksikan askar mengusir jamaah yang sedang dzikir atau sholat karena mereka berada di jalur untuk lalu lalang jamaah yang mau atau telah selesai tawaf. Jalur itu ditandai garis dengan warna lain, tapi banyak yang tidak memperhatikan atau tidak mengerti maksudnya, apalagi teriakan askar tidak dimengerti. Askar dengan bahasa isyarat menyuruh berdiri, meninggalkan tempat itu dan menyuruh pindah ke tempat sebelahnya yang masih kosong. Bahasa isyarat seperti ini bisa menimbulkan salah pengertian seolah kita diusir, dan celakanya selalu dihubungkan dengan kelakuan kita di kampung.


7. SANDALKU HILANG MELULU

“ Saya sudah tiga kali beli sandal jepit “
“ Saya sih malah lima kali padahal baru dua hari di Mekah “.
“ Itu belum seberapa karna ada yang hilang sampai tiga kali dalam sehari”.
“ Biarin aja, itu balasan abisnya dia suka jail sih ! “.
Masuk Masjidil Haram dari pintu manapun kecuali pintu tempat bersai, kita akan menemukan suasana yang sama. Tiang, ornament, lampu dan tempat air zam zam, dan yang paling ujung adalah Kabah. Karena konsentrasi kepada ibadah, selalu lupa untuk mengingat atau mencatat nomor pintu dimana kita masuk atau nomor rak tempat kita menaruh sepatu atau sandal. Di dalam masjid acap kita berpindah tempat mencari yang masih kosong atau setelah selesai tawaf kita langsung keluar masjid dan mendapatkan sandal kita yang ditaruh di rak tidak ada lagi. Barang anda masih tetap ada, ditempat anda menaruhnya, cuma anda lupa nomornya karena bentuknya semua sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar