ANDAI NABI NAMBAH SATU :
Gado-gado Perjalanan Haji Serial 10-11
10. GUNDUL TAHALLUL
Sudah dua hari selesai melaksanakan ibadah umrah baru terlintas keinginan untuk dicukur rambut. Ketika keluar dari hotel saya tersenyum kecil, pasti sulit untuk menemukan salon seperti di Indonesia sedangkan di Hotel Hilton tempat kami menginap saja tidak ditemukan informasi tersedia salon potong rambut.
Persis di bagian belakang hotel terletak deretan pertokoan. Saya temukan ada beberapa kios bertulis BARBER, disebelahnya ada kios lain berituliskan BARBAR, dua-duanya tempat potong rambut walaupun keduanya memiliki arti yang sangat berbeda. Tidak tahu persis kenapa yang satunya bernama “BARBAR”, bisa saja salah tulis atau malah sengaja untuk menarik perhatian. Kalau sengaja namanya BARBAR tidak salah juga karena bangsa Arab dipandang sebagai kaum barbar oleh bangsa Persia dan Romawi. Tanahnya yang tandus tidak menarik untuk dijadikan tanah jajahan, siapa sih yang mau menjajah padang pasir ? karena itu wilayah Semenanjung Arab merupakan daerah yang merdeka dan tidak pernah dijajah. Sangat masuk akal kalau Wilayah Indonesia tempo dulu menarik untuk digagahi alias dijajah karena tanah yang subur dan penduduk yang selalu welcome terhadap pendatang merupakan daya tarik bagi penjajah. Karena kata BARBAR berkonotasi negative, akhirnya saya putuskan masuk ke kios BARBER.
“ I want to have my hair cut “
“ How ?” balas tukang cukur.
“ Leave it about 2 centimeter “ jawab saya sambil memperlihatkan telunjuk dan ibu jari berjarak kira kira 2 cm.
“ Okay, by machine number two “ balasnya.
Saya tidak begitu paham urusan alat potong rambut tapi kira kira alatnya di set ke nomor 2, yang jelas kepala tidak sampai bakalan plontos beneran. Biayanya 5 Riyal atau Rp. 12.500,-
Setelah mandi dan membersihkan kepala perasaan sangat beda sekali, saya merasa lebih afdhal dengan kepala yang gundul. Dengan perasaan yang segar saya berangkat ke mesjid untuk sholat ashar. Berniat untuk melaksanakan ta’waf tapi di pelataran bawah sekitar Kabah dipenuhi oleh jamaah yang berpakaian ihram sedang melakukan putaran. Segera saya putuskan naik ke lantai 2 untuk berta’waf. Ta’waf disini bisa tiga atau empat kali jarak kelilingnya dibandingkan dengan tawaf dibawah. Ber-ta’waf diatas memang lebih jauh, cape dan lebih lama. Terlintas di pikiran, betapa lelahnya orang yang jauh dari Tuhan karena semuanya dianggap susah.
11. SUDAH BOTAK BATUK PULA
Batuk merupakan penyakit standar (kalau tidak mau dikatakan wajib) bagi jamaah haji. Batuk tidak memilih faktor usia, warna kulit maupun kewarganegaraan bahkan tidak membedakan apakah dia jamaah haji biasa atau jamaah haji khusus.
Setiap waktu sholat dari mulai fajr sampai isya, batuk bersahutan tidak berhenti. Hanya di pelataran ta’waf dan halaman mesjid batuk nyaris tidak terdengar, mungkin karena disitu ruangan terbuka.
Debu, udara yang dingin tapi kering turut memicu “perbatukan” ini. Kelelahan fisik akibat perjalanan jauh, kelelahan emosional di lingkungan yang baru dan mungkin kerinduan terhadap keluarga di rumah turut melemahkan daya tahan tubuh. Kepadatan manusia di mesjid dan tempat pemondokan juga turut andil mempercepat penularan batuk. HANYA UNTA YANG TIDAK BATUK ! kilah para jamaah, anggaplah menghibur diri dari pada masuk kategori UNTA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar